CV TIRTA NUGRAHA
Garment Specialist Coverall overall and Wearpack

Okt
10
We accepted the model order coverall overall and wearpack in accordance with the request and was available produck was ready with have material cotton or nomex IIIA as well as to made by the skilled hands that experienced to produce produck that was best for the sake of the customer’s satisfactio  

 

 

 

Okt
10
DuPont Tyvek®, Polypropylene and Sunlite Pants and Jackets

The DuPont Tyvek® material is also available in either pants and/or shirts. These DuPont Tyvek® accessories offer light

splash and dry particulate protection. The DuPont Tyvek® jackets feature serged seams, a 4-snap front closure, collars, and

open wrists. DuPont Tyvek® pants have serged seams, elastic waists, and open ankles. In addition, both products are

generously proportioned for increased movement.

For extra economy and breathability try the spun-bonded polypropylene pants and shirts. They feature the same sizing and

construction characteristics as the DuPont Tyvek® pants and shirts; however, the polypropylene products do not have the

longevity or splash resistance of the DuPont Tyvek®.

Finally, the Sunlite shirts and pants at the bottom of this order block offer the best properties of both the Tyvek® and

polypropylene materials. The Sunlite material is a tri-laminate fabric that offers both breathability and light splash resistance.

It is a very soft and flexible, without having a slick or plastic appearance.

Both the DuPont Tyvek® and the polypropylene pants and shirts comes in sizes SM-XXL, and can be specially ordered with

larger sizes. Both products are packed 50 per case.

The Sunlite pants and shirts are packed 30 per box and available in sizes Sm-XXL.
The source of information to tyvek ……….: http://www2.dupont.com

Okt
10

Berkat Nomex Pembalap F1 dan Pemadam Kebakaran Makin Aman…… Melihat mobil balap saling berbenturan pada balapan mobil Formula Satu, acap kali membuat kita berpikir apakah para pembalapnya yang duduk di balik kemudi cukup aman. Maklum, mobil dengan kecepatan kadang melampaui 300 kilometer per jam ini tak ubahnya sebuah pesawat jet yang sedang melaju dan saling bersenggolan, saling berbenturan. Segalanya langsung hancur berantakan tak berbentuk utuh. Tidak jarang pembalap mengalami cedera parah atau bahkan kehilangan nyawanya. Akan tetapi, belakangan ini, cerita nestapa dari ajang balap Formula Satu (F1) ini tak lagi terdengar. Sekalipun ada mobil F1 yang terlihat terbang dan terguling-guling berulang kali, tetapi sang pembalap keluar dengan kondisi badan yang sangat aman. Kalaupun memerlukan perawatan, itu pun lebih untuk pengecekan untuk lebih memastikan tidak ada anggota tubuh bagian dalam maupun luar yang cedera. Semua ini karena mobil-mobil F1 aspek keamanan dan keselamatannya kian ditingkatkan dari waktu ke waktu. Ini tidak sekadar pada penggunaan teknologi komputer dan material berteknologi tinggi dalam pembuatan sebuah mobil F1, tetapi secara konsisten dilakukan peningkatan dalam standar keamanan dan keselamatan sampai helm yang dikenakan pembalap dan seluruh pakaiannya. Dengan demikian, pembalap tidak saja terlindungi dari cedera saat terjadi kecelakaan, tetapi merasa aman sejak memasuki kabin mobil balapnya. Tak bisa dimungkiri, di awal-awal sejarah F1, antara tahun 1950 dan 1960, pakaian dan seluruh tampilan pembalap di arena balap ini lebih pada aspek enak dipakai dan gaya. Legenda Juan Manuel Fangio, sebagai contoh, biasanya tampil balap mengenakan pakaian T-shirt Polo, celana panjang dengan penutup kepala seadanya. Penutup kepala ini hanya lebih berfungsi memberikan lindungan dari sengatan sinar matahari. Tak ada kaitan dengan keamanan dan keselamatannya. Bahkan, sampai tahun 1970-an, keseluruhan pakaian hingga helm yang dikenakan para pembalap masih juga untuk bergaya. Kalaupun ada, hanya pakaian pembalap terbuat dari bahan yang tak mudah terbakar. Namun, semuanya langsung berubah begitu insiden mobil terbakar yang menimpa pembalap Niki Lauda di Sirkuit Nurburgring, Jerman tahun 1976. Lauda selamat namun dengan seluruh tubuh yang tersulut api. Mulai dibenahi Menurut Allianz Safety Focus, sejak itu faktor keamanan dan keselamatan pembalap dengan cepat mengalami pembenahan. Tahun 1979, Lauda, Carlos Reutemann, dan Mario Andretti berupaya keras mencari bahan pakaian yang tak bisa terbakar. Pokoknya, pakaian tak ubahnya dengan yang dikenakan pada antariksawan pada program ruang angkasa AS, NASA. Dan kini, bukan saja pakaian, tetapi semua yang dikenakan pembalap mulai sepatu, pakaian dalam, masker wajah, sarung tangan, dibuat dari bahan serat sintetis khusus, yang dikenal dengan Nomex. Asal tahu, Nomex-3 yang kini dikenakan para pembalap sangat tahan terhadap suhu tinggi, termasuk api membara dari bahan bakar F1. Nomex-3 ini secara keseluruhan mampu bertahan dalam 35 detik pada temperatur mencapai 850 derajat Celsius. Ini temperatur setara kondisi di tempat kremasi. Pakaian ini juga melindungi pembalap dari ancaman gas yang mengancam kulit dan asam. Keuntungan lain bahwa bahan Nomex ini sangat ringan. Pakaian yang dipakai para pembalap saat ini umumnya terdiri dari tiga lapis semua dari bahan tak mudah terbakar. Total beratnya hanya sekitar 1,9 kilogram dan semua pakaian ini dibuat dengan bantuan program komputer tiga dimensi (3D) ultra modern. Karena itu, tetap ada ruang untuk konsesi kecil dan juga untuk kenyamanan. Bahan yang agak fleksibel terutama pada bagian bahu. Demikian pula ada bahan-bahan khusus lainnya. Pokoknya, sekalipun dengan tiga lapisan, tetapi para pembalap F1 tetap enak dan tidak terganggu. Setiap pembalap umumnya mengenakan sekitar 16 pakaian spesial ini dalam satu musim balapan. Begitu pula dengan helm. Di F1, helm dibuat dari dan dilengkapi dengan item unik, namun hasil karya teknik yang tinggi dan mahal. Penutup kepala yang mirip mummie dibuat secara khusus dari lapisan serat kinerja tinggi T-800. Serat ini terdiri benang-benang yang setiap lembarnya terdiri dari 12.000 benang kecil (serat mikro), di mana setiap benang kecil ini sekitar 15 kali lebih tipis dari seutas rambut manusia. Kalau dibentang, total panjangnya mencapai 16.000 kilometer. Ada sekitar 17 lapisan yang membentuk helm seorang pembalap F1. Namun, paling inti, yakni lapisan serat karbon agar keras, serta serat polietilin yang tahan api yang juga dipakai untuk peralatan antipeluru. Seluruh berat total dari helm ini 1,2 kilogram, relatif ringan, sehingga bisa mengurangi tekanan pada leher dan otot bahu terutama saat pembalap menghadapi tekanan gravitasi (G-force) yang bisa mencapai 5 G. Tentu saja, helm ini dilengkapi bahan antiterbakar, Nomex. Namun, apabila berlomba di daerah dengan temperatur tinggi, seperti Dubai, maka helm ini juga dilengkapi dengan lubang yang memungkinkan sekitar 10 liter udara masuk ke dalam. Lubang ini harus diperhitungkan, karena kecepatan F1 yang begitu ekstrem bisa membuat aliran udara mengganggu pembalap. Lubang udara ini jelas dilengkapi filter untuk menyaring debu, minyak, karbon, dan partikel debu dari rem. Apabila terjadi kebakaran, maka helm ini juga mampu bertahan hingga suhu 800 derajat Celsius selama 45 detik. Kaca helm juga setebal 3 milimeter dan terbuat dari serat polikarbon yang tahan api dan menjamin pemandangan pembalap aman. Kaca helm ini juga mampu menyadap berbagai cahaya ekstrem yang datang, semisal ketika pembalap memasuki dan keluar terowongan saat balap di Monako. Dan asal tahu juga, kaca ini mampu menahan benda tajam yang datang dengan kecepatan 500 kilometer per jam. Dalam uji coba, benda tadi hanya menancap 2,5 milimeter. Pokoknya, menonton lomba balap F1 saat ini paling hanya membuat penonton baik di sirkut maupun di televisi terkesima sesaat pada waktu terjadi benturan. Namun, tepuk tangan dan decak kagum akan muncul begitu pembalapnya keluar dari mobilnya sambil melambaikan tangan. Padahal sebelumnya, mobil balapnya berguling-guling. Bahkan ada yang sampai terbakar pula. Boleh jadi, suatu waktu kelak para pengemudi mobil di jalan raya juga harus dilengkapi tak ubahnya pembalap F1. Akan tetapi, hal ini juga bisa memicu orang untuk balapan di jalan raya, habis semakin pede alias percaya diri. (pieter p gero) Sumber dari Kompas Ciber Media